Minggu, 05 Juni 2011

Setetes Tinta Semangat (Bagian Keenam)







Rule Your Mind Or It Will Rule You    spc_eee1spc_eee1spc_eee1spc_eee1spc_eee1
”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”

Buddha

Pikiran merupakan hamba yang sangat berguna namun merupakan majikan yang paling kejam. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan pikiran anda. Berita baiknya, sebelum saya menjelaskan maksud pernyataan di atas, adalah bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini yang memiliki kemampuan berpikir mengenai proses berpikir. Istilah teknisnya adalah metakognisi. Berita buruknya adalah bahwa sangat banyak orang yang tidak sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki kemampuan ini. Dan oleh sebab itu mereka tidak pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari pikiran mereka sendiri.
Apapun yang terjadi di dalam hidup kita merupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Semakin kita memikirkan hal yang tidak kita inginkan, maka kita semakin cenderung mendapatkannya. Ada seorang remaja putri, yang tidak suka dengan tingkah laku ibunya dan berkata, ”Nanti, kalau saya dewasa, saya tidak akan jadi seperti ibu saya.” Apa yang terjadi saat ia dewasa? Ia menjadi persis seperti ibunya. Mengapa? Karena semakin ia pikirkan bahwa ia tidak mau menjadi seperti ibunya, maka pikiran ini menjadi semakin dominan, semakin menguasai dirinya, dan dengan demikian mengarahkan ia untuk menjadi seperti ibunya.

Demikian juga orang gagal, yang pencapaian prestasi hidupnya rendah. Coba anda tanyakan pada mereka, ”Apa yang anda ingin capai dalam hidup?” Mereka akan selalu berkata, ”Saya ingin agar hidup saya tidak kekurangan, tidak miskin, tidak susah, tidak menderita, tidak ini...., tidak itu.....” Yang mereka katakan selalu apa yang tidak mereka ingin terjadi pada diri mereka. Namun yang tidak mereka sadari adalah semakin mereka fokus untuk menghidari apa yang tidak mereka inginkan maka pikiran mereka akan semakin membuat hal itu menjadi kenyataan.
Sebaliknya kalau orang sukses ditanya, ”Apa yang anda ingin capai dalam hidup?” maka mereka pasti akan menjawab, ”Saya ingin menjadi pengusaha sukses, saya ingin membantu orang yang tidak mampu dengan kekayaan saya, saya ingin mendirikan panti asuhan, saya ingin menyekolahkan anak ke luar negeri, saya ingin......., saya ingin........” Semua jawaban itu selalu yang positip. Anda bisa lihat bedanya sekarang?
Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa terjadi perbedaan hasil antara orang gagal dan orang sukses, padahal mereka memikirkan tujuan yang sama?” Sebelum saya jawab, saya perlu meralat pertanyaan anda. Mereka memang terkesan memikirkan hal yang sama, padahal tidak sama. Bukankah tidak mau hidup miskin sama dengan hidup dalam kelimpahan? Bukankah hidup tidak menderita sama dengan hidup senang atau bahagia? Secara bahasa, apa yang mereka nyatakan memang artinya sama. Tapi secara kerja pikiran, kedua pernyataan itu bertolak belakang. Lho, koq bisa?

Sekarang saya ingin bermain dengan pikiran anda sejenak. Coba anda lakukan hal berikut ini. Saya ingin anda untuk tidak memikirkan seekor gajah warna merah muda. Sekali lagi, saya minta anda tidak memikirkan gajah warna merah muda. OK! Berhenti sejenak. Lakukan eksperimen kecil ini. Setelah itu baru anda boleh meneruskan membaca.
Bila anda melakukan dengan benar apa yang saya minta maka pikiran anda malah memikirkan seekor gajar warna merah muda. Mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah perintahnya tadi adalah anda diminta tidak memikirkan gajah merah muda?
Inilah perbedaan kerja bahasa dan kerja pikiran. Secara struktur kalimat, instruksi yang saya berikan sudah benar. Namun tidak demikian bila instruksi ini mau dilaksanakan oleh pikiran. Bahasa mengenal negasi. Pikiran tidak. Kalimat ”tidak memikirkan” secara kaidah bahasa memang berarti ” tidak boleh memikirkan atau jangan memikirkan”. Namun di pikiran, untuk bisa menegasi suatu pernyataan maka yang terjadi adalah harus terlebih dahulu muncul ”sesuatu” untuk kemudian dinegasi.

Dalam contoh yang saya berikan, untuk bisa ”tidak memikirkan gajah merah muda”, maka yang terjadi di pikiran adalah:
1. pikiran harus memunculkan gambar gajah warna merah muda
2. baru setelah itu pikiran akan menegasi gajah merah muda
Namun, begitu gambar gajah merah muda telah muncul di pikiran maka efek negasi tidak berlaku. Artinya, gambar gajah merah muda itu akan tetap berada di dalam pikiran. Semakin dominan pikiran itu maka semakin kuat pengaruhnya pada diri seseorang.
Hal ini sama efeknya dengan orangtua yang ”memotivasi” anaknya, yang malas belajar, dengan kalimat, ”Nak, jangan malas. Kalau malas kamu nggak bisa sukses”. Apa yang terjadi? Anaknya justru tambah malas dan tambah sulit sukses. Demikian juga saat orangtua mendorong anak untuk rajin bangun pagi dengan, ”Kalau bangun jangan suka telat. Jangan suka bangun siang. Nanti bisa telat masuk sekolah.” Apa yang terjadi? Anaknya tetap bangunnya telat. Mengapa bisa demikian?
Komunikasi mengandung tiga hal. Pertama adalah ide, kedua adalah gambaran mental, dan yang ketiga adalah emosi. Saat orangtua berkata jangan bangun telat, maka ini adalah ide. Selanjutnya dalam pikiran akan muncul gambar orang yang bangun telat. Setelah itu muncul emosi. Kalau emosi yang muncul adalah ia merasa enak kalau tidur sampai siang, maka kebiasaan ini akan semakin kuat.

Untuk dapat benar-benar bisa mengendalikan pikiran kita harus menyadari bahwa kita dan pikiran kita adalah dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, kita menggunakan pikiran namun pikiran bukanlah diri kita. Diri kita adalah sebuah kesadaran yang menggunakan pikiran sebagai alat untuk menghasilkan buah pikir. Kesadaran ini merupakan langkah awal untuk mengendalikan pikiran. Untuk mudahnya anda cukup mengingat tiga hukum pengendalian pikiran berikut:
Hukum pengendalian pikiran yang pertama berbunyi: Buat pikiran anda memikirkan apa yang anda ingin pikirkan.
Pikiran selama ini telah dengan sangat bebas memikirkan apapun yang ”ia” inginkan. Dengan demikian selama ini pikiran yang mengendalikan diri anda. Sekarang, setelah menyadari hal ini, anda perlu membalik prosesnya, kenali bahwa pikiran hanyalah merupakan suatu aktivitas, yang dapat berjalan sesuai dengan keinginan anda. Untuk dapat mengendalikan pikiran, anda harus disiplin dalam menjalankan hukum pertama ini. Belajarlah untuk mengatur pikiran seperti anda menjalankan sebuah mesin. Anda dapat menyalakan atau mematikan menurut keinginan anda.
Hukum pengendalian pikiran yang kedua berbunyi: Buat pikiran anda berpikir saat anda menginginkannya berpikir dan berhenti berpikir saat anda menginginkannya berhenti.

Bagi kebanyakan orang pikiran mereka dapat melakukan apa saja, meskipun tanpa persetujuan mereka, sehingga pikiran yang menentukan apa yang akan ia pikirkan. Akibatnya, pikiran yang muncul sering kali tidak terkendali dan mengakibatkan pikiran yang kacau. Untuk mengatasi hal ini anda harus bisa menjadi tuan dari pikiran anda, bukan sebaliknya. Gunakan pikiran saat anda ingin menggunakannya dan tidak menggunakannya saat anda tidak ingin menggunakannya. Dengan kata lain, anda harus belajar untuk bisa membuat pikiran menjadi tenang saat anda menginginkannya tenang.
Hukum pengendalian pikiran yang ketiga berbunyi: Menjadi pengamat dari pikiran yang anda pikirkan.

Semakin ahli anda dalam memainkan peran sebagai pengamat dalam mengamati pikiran maka anda akan semakin mampu menguasai pikiran. Mainkan peran pengamat dalam setiap bentuk kegiatan mental yang anda lakukan. Jadikan hal ini sebagai sebuah kebiasaan. Bila anda mampu menjadikan peran pengamat sebuah kebiasaan, maka kebiasaan ini akan sangat membantu mengembangkan kemampuan persepsi anda. Selanjutnya anda akan mampu mengendalikan pikiran dan berpikir secara sadar.
Pada mulanya, keadaan pikiran orang pada umumnya relatif tidak terstruktur, obyektif, fleksibel, dan terbuka terhadap pengalaman belajar baru. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini perlahan tapi pasti berubah menjadi semakin kaku, bias, dan sulit menerima persepsi, pembelajaran, atau respon yang tidak dapat diterima oleh struktur sebelumnya. Pada akhirnya, seluruh ruang lingkup kesadaran pikiran sadar didikte dan tunduk pada kerangka berpikir yang tadinya dibentuk sebagai landasan untuk mengembangkan kemampuan berpikir itu sendiri.
Pikiran sadar atau rasional sebenarnya merupakan pikiran yang paling tidak rasional. Mengapa demikian? Pikiran rasional, berdasarkan kesan yang diterimanya melalui perspektif yang terbatas, membentuk struktur-struktur yang kemudian menentukan apa yang akan diterima dan ditolaknya secara bebas. Mulai saat itu tidak peduli bagaimana dunia berjalan, pikiran rasional akan mengikuti aturan yang diciptakannya sendiri dan mencoba memaksa dunia mengikuti aturan itu. Celakanya lagi, kita menggunakan pikiran sadar untuk berpikir, menganalisis, mensistesis, dan mengevaluasi.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan satu kutipan favorit saya sebagai berikut:
”I think, therefore I am”
Descartes
Bila diterjemahkan bebas artinya ”Saya berpikir, maka saya ada”. Sebaliknya ada pihak yang menentang pendapat Descartes dengan beragumentasi, “Saya ada, maka saya bisa berpikir”.
Nah, pertanyaan saya pada anda, manakah yang benar ”Saya berpikir, maka saya ada”, ataukah ”Saya ada, maka saya bisa berpikir”?
Selamat berpikir !!

_Adi W Gunawan_

Sabtu, 04 Juni 2011

Setetes Tinta Semangat (Bagian Kelima)

Ada yang bilang, buat apa kau selalu banyak menulis. toh, yang kau katakan dalam tulisanmu, jika tidak dibaca orang juga tidak akan mengubah sesuatu. Buat apa banyak menulis, jika apa yang kita tulis kebanyakan adalah keluhan, sekedar curhatan, atau malah pengakuan kelemahan kita.

Teman-teman, saya suka menulis. Kenapa? pastinya itu semua terlintas dalam pikiran kalian. dan tentunya saya juga punya alasan yang cukup logis untuk menjelaskan tentang hal itu. taukah engkau, bahwa apapun yang terekan dalam ingatan itu tidak sepenuhnya dapat kita ingat. ada hal-hal yang akan secepatnya saja menghilang, padahal ia begitu berkesan. atau mungkin itu adalah kejadian yang dapat mengingatkan kita. kejadian yang dapat memperbaiki apa yang telah kita lakukan kini.






kadang saya sempat juga berfikir, buat apa saya menulis. toh, saya juga tidak tau siapa saja yang mengambil manfaat dari tulisan saya. Tapi saya yakin, bahwa apa yang tidak kita ketahui itu sesuatu yang abstrak. jadi kita tidak bisa menjudge apa yang telah kita lakukan itu tidak mempunyai makna, atau tidak ada gunanya. yeach, seringkali saya bicara pada diri saya sendiri bahwa "I am nothing/ I am no one" saya memang bukan siapa-siapa. Tapi saya tidak ingin menjadikan diri saya tidak bermanfaat bagi yang lain. bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lain? Khoirunnaas anfa'uhum linnas.

Inilah yang dapat saya tulis. Tentang ada atau tidak seseorang yang membaca, biarkan itu semua menjadi urusan Tuhan. Tentang apakah ada atau tidak yang memperhatikan, serahkan saja semuanya pada Yang Maha Memperhatikan. Bukankah kita semua hanya mengikuti skenario?

Lagi-lagi, saya selalu diingatkan. Ehm, sedikit bercerita saja ya, tadi sepulang saya mengajar privat, saya lewat jalan palur tepatnya depan karanganyar. Kalian tau apa yang terjadi? kerumunan orang banyak sekali dan itu membuat kemacetan yang begitu panjang. ternyata terjadi kecelakaan. dan korbannya adalah seorang ibu yang tergilas bis. kepalanya pecah, dan katanya isi dalam kepala itu keluar. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. lagi-lagi apa yang terjadi di sekitar kita adalah sebuah peringatan. Kullu nafsin dzaa iqotul mauut....

Saya tidak ingin terlalu panjang lebar menulis disini. karena ini waktu maghrib, yang jelas, ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak dapat kita ketahui. seperti apa yang saya tulis disini. saya benar-benar tidak mengetahui siapa yang membaca tulisan saya. toh, dibaca atau tidak juga tidak ada pengaruhnya bagi saya. tapi saya tidak ingin hanya diam. kadang saya berpikir, kenapa juga tulisan saya dipublikasikan di atas lembaran blog, bukankah itu malah membuat jati diri saya diketahui. hhmm...itu sudah melalui pertimbangan yang sangat matang. saya hanya merasa, saya dapat berbagi dengan kalian. entah itu sebuah tulisan, artikel, ataupun catatan perjalanan. yang jelas, semoga ada hikmahnya. walau saya benar-benar tidak tau, apakah ada sepasang mata yang benar-benar membaca.

Ketahuilah, diam itu memang kadang diperlukan. Tapi tidak selamanya diam itu menyelesaikan masalah. kadang diam hanya akan mengundang mudharat. dan perlu sebuah gerakan-gerakan untuk mengubah sesuatu menjadi yang lebih baik lagi. bukankah begitu?

karena itu tidak perlu panjang lebar saya menulis. intinya adalah bergeraklah, berlarilah, sekuat kalian...!!!

karena jalan ini masih panjang. banyak hal yang harus kita ketahui, banyak hal yang masih "rahasia" yang benar-benar sesuatu yang akan "dipersiapkan" olehNYA. tetap semangat.

jadikan setiap hari adalah sarana pembelajaran. karena kita tidak hanya belajar dari buku. tapi belajar dari situasi, belajar dari karakter seseorang, belajar bagaiamana mengendalikan...

Wallahu 'alam

_Khalifa Rafa Azzahra_

Jumat, 03 Juni 2011

Setetes Tinta Semangat (Bagian Keempat)

pernahkah kau merasa bahwa ternyata ada sebuah penengah di antara kedua sisi kehidupan. di antara benci dan cinta. di antara suka dan duka. di antara sehat dan sakit. di antara itu ternyata ada sebuah proses. aku namakan demikian. itu menurutku, kalau menurutmu itu lain, terserah saja.

dan ternyata memang di antara ada dan tiada pun terdapat sebuah proses. proses yang menjadikan tiada menjadi ada. lalu proses juga yang menjadikan ada menjadi tiada. dan sekarang kita berada di tengah-tengah proses itu. sadarkah kita?

bahkan di antara bumi dan langitpun aku menemukan adanya penengah di antara mereka. sebuah proses yang berusaha mendekatkan mereka dari jarak yang begitu jauh. dan sebuah proses pula yang menjauhkan mereka. kau tau apa itu? ia adalah gerimis. rintik hujan yang membasahi bumi adalah sebuah proses kehidupan yang berjalan. sebuah proses dari langit supaya dapat menyapa bumi. sebuah proses pula dari bumi yang memberikan uapnya kepada awan. menjadikannya mendung lalu mendatangkan hujan. hujan itu adalah isyarat. isyarat bahwa tak selamanya kita menyapa hujan. tak selamanya ia ada dalam kehidupan kita. karena kadang, ternyata kita harus merasakan kedinginan karena hujan jika ingin merasakan nikmatnya kehangatan. karena kadang, kita harus basah dahulu karena hujan sebelum kita dapat melihat indahnya pelangi.



















seperti dua sisi bukan, hidup itu? jika memang sebuah proses itu adalah datangnya hujan, bersabarlah. sesungguhnya bersabar itu lebih baik daripada engkau terus menerus mengeluh menyalahkan keadaan. dan jika sebuah proses itu adalah hangatnya sinar mentari yang menyinari bumi. bersyukurlah. kadang ALLAH memberikan kita posisi yang nyaman agar kita bisa belajar untuk memaknai kenyamanan itu. untuk terus belajar dari posisi orang lain yang mungkin di bawah kita. bersyukurlah, karena Ia masih memberikan kesempatan padamu untuk merasakan nikmatnya sinar mentari. merasakan kehangatan itu. tapi tetaplah bersiap. karena pastilah ALLAH memberikan kita sebuah ujian. ya, pastinya untuk mengukur seberapa besar keimanan kita. seberapa tangguhkah kita mengahdapi ujian. apakah kita memang sudah beriman sebelum ALLAH menyatakan kita lulus ujian dan naik kelas dengan peringkat tsumma Taqwa? dalam surat Adz-dzariyat sudah jelas bukan...hhmmm...kalau tidak salah ayat 2. kalau salah ya, dibenarkan sajalah...aku hanya mengingat-ingat saja..

dan pastinya sebuah proses dari ada dan tiada adalah sebuah kehilangan. kehilangan ini tidak hanya bermakna kita sudah tidak bisa mendapatkan apa yang kita miliki. bisa saja Ia menunda apa yang kita inginkan. karena Ia ternyata lebih tau apa yang kita butuhkan. memang sakit ketika kita merasakan kecewa, tapi janganlah lantas membernarkan keadaan yang terjadi pada kita dengan pembenaran atas keadaan yang memang salah. introspeksi atas ebuah proses itu akan memberikan hasil yang lebih baik daripada bersifat masa bodoh dan menghindar atas apa yang sudah kita lakukan. bukankah setiap orang akan dimintai pertanggunggjawabannya? yaa...kalau tidak sekarang pastinya nanti di akhirat kan?

proses pulalah yang mendekatkan kita lagi kepada bulan yang penuh dengan kerahmatan. sudah siapkah kita? sudah menyiapkan dirikah kita? dan aku yakin, aku juga belum sepenuhnya siap akan kedatangannya...

marhaban Ya Ramadhan...

kini rajab telah tiba, sebentar lagi Ramadhan..bulan yang penuh berkah melingkupi harihari kita.

semoga ALLAH masih memberikan kita kesempatan untuk menjadi yang lebih baik lagi. dari hari ke hari.


"Kekasihku, takkan kubiarkan Engkau cemburu lagi pada ramai yang membuatku lalai. pada gelak tawa yang menjadikan hatiku hampa...Temukan aku dalam bulan yang penuh dengan cahaya. yang dengannya aku bisa berjalan sepenuhnya. dan kan kusiapkan amalan-amalan terbaikku, untuknya."

"Allahumma baariklanaa fii rajab wa sya'ban wa ballighna ramadhan"


_Khalifa Rafa Azzahra_

Setetes Tinta Semangat (Bagian Ketiga)

malam, senang sekali melihat engkau begitu perkasa hari ini. tau tidak, beberapa bulan yang lalu, aku masih berbicara pada sunshine. aku bilang padanya bahwa kita tidak bisa menggenggam takdir. semuanya telah digariskan. sebagaimana digariskan pula langit yang membentang, dan bumi yang menghampar. seperti itu pulalah kisah hidup kita tertulis dalam lauhul mahfudz.

kau tau malam, percaya tidak percaya. sebenarnya aku lelah sekali. tau kenapa? rutinitas ini membuat sebagian waktu yang seharusnya milikku sendiri harus aku berikan untuk orang lain. itulah, selalu ada bagian orang lain dari diri kita. dan aku yakin, detik ini, menit ini, jam ini... ada juga sepasang mata yang membaca tulisanku ini (ge er yaa..:) )

hai malam, tak tau aku mau menulis apa. tapi...aku mau bercerita saja...kemarin aku baru saja dari sragen, kau tau tidak, aku sempet hampir ditabrak, keserempet, dan nabrak orang. di tengah tengah perjalanan ngantuk, nggak konsen, kesasar, bahkan sampai melihat orang yang kecelakaan. ya. seorang satpam yang terseret bus sampai beberapa meter dari sebuah pabrik.

aku jadi semakin yakin, bahwa semuanya ada waktunya. alhamdulillah, ALLAH masih memberikan kesempatan padaku untuk menulis, untuk bernafas, untuk berbuat sesuatu...

kelelahan adalah suatu hal yang biasa. alhamdulillah kita masih bisa merasakan lelah. bukankah dalam surah Al-insyirah dijelaskan bahwa bersama kesulitan itu akan datang kemudahan. dan semoga ALLAH mengganti segala kelelahan hari ini dengan kemudahan-kemudahan di esok hari.

kadang, aku tak tau apa yang aku tuliskan itu punya makna atau tidak..tapi kemarin...aku buka file-file di aa' yang sangat jadul...kau tau apa isinya??

isinya kebanyakan adalah notulen. syuro, rapat, rencana ke depan, visi misi organisasi...hhmmm...(dan aku masih tak habis fikir..banyak sekali perubahan-perubahan yang ada pada diriku, dirimu, diri mereka)

sudah yaaa....

oia...aku paling suka menghapus sesuatu, jadi kalau misalnya aku rasakan tulisan ini aneh, atau kurang layak untuk dibaca. jangan khawatir ya malam...aku akan menghapusmu segera...

tetap semangat...!!!

"Walaqad yassarnal qur aana liddzikri fahal min muddzakir"


-khalifa rafa azzahra-

Setetes Tinta Semangat (Bagian Kedua)

...mungkin memang benar, hidup itu seperti puisi yang belum jadi. Namun pada akhirnya cinta adalah persoalan keputusan dan nyali...

>>kuberitahukan padamu tentang makna kehilangan.

Karena mereka sebenarnya tak pernah engkau miliki. Dan yang terjadi sebenarnya kau sesungguhnya tidak benarbenar kehilangan.

>>tapi mereka hanya tak dapat bersama denganmu lagi. Dan memang semuanya harus kembali. Kepada yang BENARBENAR MEMILIKI.

~bukankah di dunia ini semuanya hanya titipan?~


...begitulah, waktu akan semakin mengajari kita bagaimana menggenggam dan melepaskan...

::Bagaimana mengatur kecepatan::

bagaimana hidup dengan cahayamu sendiri

begitulah, puisi dan sajak kadang berganti menjadi sebuah cerita dan sekumpulan jejak

dan kehidupan akan terus berputar...

Karena itu tetaplah bersemangat.....!

Hati, pikiran, akal, ruh.........

Setetes tinta semangat menuliskan sebuah kata tentang makna melepaskan dan mengikat



-khalifa rafa azzahra-

Setetes Tinta Semangat (Bagian Pertama)

The Butterfly and The Flower

Once there was a man who asked God for a flower and a butterfly. But instead God gave him a cactus and a caterpillar.

The man was sad, he didn't understand why his request was mistaken . Then he thought, Oh well, God has too many people to care for, and decided not to question.

After sometime, The man went to check up on his request that he had left forgotten. To his surprise, from the thorny and ugly cactus a beatiful flower had grown.And the unsightly caterpillar had been transformed into the most beautiful butterfly.

God always does things right...!!

His way is always the best way, even if to us it seems all wrong

If you asked God for one thing and received another. TRUST

You can be sure that he will always give you what you need at the appropriate time

What you want is not always what you need

God neer fails to grant our petitions, so keep on going for Him, without doubting or murmuring

Today's thorn...is tomorrow's flower

God gives the very best to those who leave the choices up to Him...

_So...keep smile and always cheer up....^_____________^



_Khalifa Rafa Azzahra_

Jumat, 27 Mei 2011

Khalifa Rafa Azzahra

Kau berjanji kepada mentari bahwa
Hanya namaNya yang menjadi naunganmu
Ataukah semua janji hanya ingatan yang
Lindap lalu lapuk menyusuri memori otakmu
Ingkari semua kenyataan dan ketiadaan
Fakta menjadi bayang-bayang maya
Atas sebuah ketidakpastian

Rasa membungkam seluruh asa yang terekam
Angan membutakan seluruh mimpi yang kaususuri
Firasat menjatuhkan seluruh kepercayaan yang tergenggam
Aral menyalahkan keadaan yang melingkupi kebersamaan


Andai engkau tau, sayap sayap yang terbang dari sepanjang tubuh menjadi sebuah isyarat
Ziarah jiwa yang terlampau lama menanti asa, hingga
Ziarah demi ziarah hanya membuatmu melayat sepasang mata
Andai engkau tau, sepi membungkus rindu
Harapan menjadikan angan bertebaran menjadi
Roh-roh yang lupa nama, mengitari seluruh
Arloji di sepanjang tubuh dalam detak-detak mimpi yang retak di ujung hari


By : Khalifa Rafa Azzahra