Kamis, 17 Desember 2015

Feeling #part3

Menanti itu sebuah rasa yang berada di tengah-tengah. Di antara ketidakpastian.  Di antara kegalauan.  Di antara pengharapan.  Sebuah rasa yang tidak bisa terdefinisikan.

Seperti saat ini.  Menanti pertemuan spesial dengan pangeran kecil keduaku,  adalah rasa tersendiri yang tersembunyi.  Tidak ada yang bisa mendefinisikan_ antara harap harap cemas dan excited. Terkadang penantian itu membuat khawatir di saat harapan kita terlalu tinggi.  Terlalu mengharap.  Terlalu menanti.

Senin, 09 November 2015

Feeling #Part2

Pernahkah kamu merasa dipeluk oleh sebuah permasalahan yang sangat pelik dalam hidupmu? hingga kamu merasa sangat sulit untuk mengelak dari pelukan itu. Pelukan yang sangat tidak nyaman dan pelukan itu tidak akan membiarkanmu terlepas sebelum kamu berhasil meyakinkannya bahwa kamu bisa mengatasinya.

Itulah yang kurasakan sekarang. Feeling that everything's suck till I can solve all of my problems.

Salah satu permasalahan yang sangat dekat adalah masalah keluarga. Suami, anak, saudara, orang tua, orang-orang terdekat kita yang setiap saat menemani kita. Melewati hari.

Kini, aku merasa aku harus mulai memutar otak, memikirkan solusi yang tepat. memikirkan langkah selanjutnya yang harus aku lakukan. By the way, sekarang Adha, pangeran kecilku lagi sakit. Rewelnya bukan main. Terkadang pasti ada perasaan kesel, jengkel, marah, sebel ketika melihat anak yang rewelnya bukan main. Ada saja yang diminta. 3 hari ini aku belajar banyak hal. Belajar bahwa anak kecil sebenarnya tidak tau apa-apa ketika dia rewel. Dia hanya menyampaikan bahasa tubuh bahwasanya tubuhnya sedang tidak enak, tidak enak melakukan apa-apa, merasa ngga nafsu makan. Tapi seringkali kerewelannya mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan dari orang tuanya.

Feeling so sad if you see that condition. Exactly..

Belum lagi persoalan kebersamaan. Bersyukur sekali sampai detik ini bisa bersama dengan keluarga kecilku. Mesti menumpang di tempat saudara, mesti terkadang merasa seperti benalu, mesti terkadang harus merasa dilema dan tidak bisa berbuat apa-apa, mesti terkadang ingin sekali hidup bebas dan mandiri dengan kaki sendiri. Setidaknya sampai saat ini aku bisa merasakan rasanya menunggu suami pulang dari kantor, dengan disambut pangeran kecilku yang setiap saat menanyakan keberadaan ayahnya.

Huft, tidak sanggup kupikirkan sebelumnya kalau suatu saat Allah akan mencabut kebersamaan itu. Seperti kabar akhir-akhir ini dari suami, katanya dia akan dimutasi ke Jombang (For your information, jombang is far enough from surabaya. it's about 2 hours to get there). Kabar ini membuatku tidak bisa tidur nyenyak, airmata yang tidak pernah ijin untuk keluar dan akhirnya ini semua berpengaruh pada kondisi psikis keluarga kami. Sungguh, betapa berharganya arti sebuah kebersamaan itu. Sangat mahal sekali sebuah kebersamaan.

Pernahkah kamu merasakan harus menjalani hari-hari seorang diri tanpa pasangan? Pernahkah kamu merasakan harus berperang dengan waktu, menunggu saat weekend tiba hanya untuk melihatnya kembali bersamamu?

Aaah, aku tidak pernah membayangkan saat itu. Aku tidak terbiasa tidur sendiri, aku tidak terbiasa membunuh sunyi sendiri, aku tidak terbiasa tidak menunggunya pulang.

Semoga kebersamaan ini masih tetap bisa kurasakan. selamanya.
Dan solusinya adalah, aku harus mencari sekali lagi jalan keluar untuk mengais rejeki, mencarikannya ladang amal di daerah ini supaya masih bisa tetap bersama. Dan aku tidak perlu memikirkan akibat terburuknya jika aku dan dia harus berjauhan.

Saat ini kandunganku sudah 8 bulan, sebulan lagi, adeknya Adha akan lahir. Dan jika kantor ayahnya dimutasi ke Jombang, itu berarti aku tidak bisa membawa semua anak-anakku bersamaku. Akan sangat repot nanti. Membayangkan hal ini saja aku tidak mampu. Aku tidak mampu untuk berjauhan dengan anakku sendiri. Aku sudah sangat terbiasa tidur memluk dia, mengecup keningnya sebelum tidur, mendengarkan suaranya. Ya Allah, berikan kami kesempatan sekali lagi untuk mengarungi kesulitan-kesulitan ini bersama, walau pasti akan timbul segudang masalah yang ada dalam rumah tangga, tapi aku rela. Hal ini jauh lebih baik daripada harus menukar itu semua dengan sebuah kebersamaan.

Feeling that today is so hard for me, but I have to through it.

Perasaan ini sungguh begitu galau. Banyak hal dalam pikiranku yang harus aku kendalikan.

Satu hal yang pasti, hikmah dari semua ini adalah, BERSYUKURLAH ATAS APAPUN YANG TERJADI SAAT INI, BERBUATLAH YANG TERBAIK UNTUK ORANG YANG KAMU CINTAI, dan JANGAN PERNAH MENUNGGU UNTUK BERBUAT KEBAIKAN.

Love my Fams...so much


Minggu, 30 Agustus 2015

Feeling #part1

Dalam hidup,  ada satu hal yang sangat sulit diatasi dan dihindari.  Hal yang membuat manusia terlihat paling lemah dari semua makhluk hidup yang lainnya.

Perasaan.

Seseorang bisa melalui semua ujian yang tertulis dalam pendidikan. Banyak sekali yang dapat menempuh pendidikannya sampai tingkat yang paling tinggi.  Akan tetapi,  jika dihadapkan pada ujian perasaan. Akan terlihat bahwa sangat sedikit yang bisa survive di dalamnya.

Ujian pernikahan misalnya,  tidak semua orang yang berpendidikan tinggi bisa sukses menjalani ujian perasaan dalam biduk rumah tangganya.

Ataupun ujian kehilangan orang yang dicinta.  Tidak semua orang bisa mengikhlaskan sepenuh hati ketika ditinggal orang yang dicintainya.  Entah itu suami,  ayah,  ibu,  anak,  saudara,  maupun teman.
Perasaan memang menjadi salah satu hal yang penting dalam hidup kita.  Ia menjadi generator dan motor yang menggerakkan alam bawah sadar. Tidak semua orang bisa mengendalikan perasaannya.  Banyak yang terbawa,  lalu hilang sampai hanyut.  Ada juga sebagian yang mengantarkan perasaannya pada posisi yang tepat sehingga tidak menjadikannya seseorang yang hilang semangat.

Kita boleh saja berhenti,  menangis saat kita dihadapkan pada ujian yang melayangkan perasaan.  Tapi,  jangan sampai hanyut dalam perasaan.  Kendalikan ia,  dan bergeraklah.  Tetap bersemangat meskipun perasaan sedang sekarat. 

Seperti saat ini, adakah mungkin seseorang yang pernah merasakan apa yang kurasa?

Ketika anak sakit. Rasanya sebagian dari jiwa hilang entah kemana.  Fokus bekerjapun melayang nun jauh di hati sang anak.  Buah cinta yang dulu pernah 9 bulan lebih berdiam di tempat ternyaman.

Rahim ibu.

Rabu, 26 Agustus 2015

PENGAKUAN #PART14

Kamu tau rasanya menjadi benalu?  Atau ikan ramora?  Atau seekor kutu kucing?

Rasanya menyiksa.

Harus hidup dengan menumpang di kehidupan orang lain

Ingin suatu saat dapat hidup sendiri.  Di atas kaki sendiri.  Tanpa intervensi dari pihak manapun.

Apa artinya pulang tapi tak sepenuhnya pulang?
Pulang untuk menambah lagi kekosongan.  Menambah lagi beban pikiran.

Harus menjadi apa aku agar kamu tak sekalipun membandingkan aku dengan inangku?
Aku benalu yang mungkin tak tahu malu.  Tapi setidaknya aku masih punya perasaan dan harga diri.

By the way,  seumur hidup aku tak suka dibanding2kan. Dan perbandingan malam ini cukup meyakinkanku bahwa kamu belum menerima sepenuhnya diriku

Selasa, 25 Agustus 2015

PENGAKUAN #PART13

Menjadi seseorang yang selalu merasa itu tidak selamanya menarik.  Menjadi seseorang yang selalu berkatapun tidak bisa dikatakan baik.

Dalam hidup,  ada satu fase yang ta bisa sedikitpun kita acuhkan begitu saja.  Fase pergantian peran dan tambahan tanggung jawab.  Hingga pada akhirnya, kita belajar banyak. 

Apa yang pantas dikatakan.
Apa yang wajib dilihat.
Apa yang layak didengarkan.
Apa yang seharusnya dimengerti.
Apa yang sebaiknya diprioritaskan.

Saat ini,  Saat tubuhku tidak hanya miliku sendiri.  Aku belajar banyak.  Tentang bagaimana mendahulukan cinta,  tentang bagaimana menyikapi diri.

Hingga suatu hari nanti,  saat Sang Pemilik Hati mulai menghendaki sebagian jiwa ini tumbuh dan berkembang. Aku akan belajar tentang bagaimana kelemahan menjadi salah satu kekuatan.

Dan sungguh,  ketika seorang ibu mengandung. Ia dalam keadaan yang lemah yang semakin bertambah.  Ada kehidupan yang harus ia antarkan,  ada cinta yang harus ia bawa.

Dan kini aku,  merasakan gerakan mungilmu di rahimku.  Membuatku merasa jatuh cinta.  Untuk yang kedua kalinya.

Aku akan membawamu pada dunia, Anakku.  Dunia yang akan menjadikanmu seseorang yang berarti.

Aku akan mengenalkanmu pada islam,  anakku.  Islam yang menaungimu dalam cahaya iman.

Selasa, 18 Agustus 2015

PENGAKUAN #PART12

Jujur saja ya, saya memang tergolong orang yang keras kepala. Dan ketika sedang dirundung permasalahan entah masalah apa itu, pasti saya akan cenderung untuk menutup rapat-rapat masalah itu. Mungkin cuma satu dua orang yang tau masalah apa yang sedang saya alami. Tapi untuk mengatasinya saya pasti akan butuh saran dari orang atau teman atau sahabat yang lebih berpengalaman. Biasanya sih kalau lagi anget-angetnya itu masalah, emosi saya pasti sedang naik. Tapi lambat laun pasti akan mereda.

Seperti permasalahan kemarin, masalah kondisi saya yang sedang hamil. Dan sepertinya saya merasa tidak terima dengan aturan yang diberikan ke saya. Tapi lambat laun saya mengerti. Setiap institusi punya aturan masing-masing. Dan sebagai pegawai baru, alangkah bijaknya jika saya juga mematuhi aturan tersebut (walaupun dengan berat hati :) )

Kata umi saya sih, akan ada hikmah di balik ini semua. Pasti ada positif dan negatifnya, tapi yakin saja Allah punya rencana yang manis di balik semua ini. Kemarin baru saja saya membaca sebuah artikel. Isinya kurang lebih adalah ayat-ayat cintaNya yang mengingatkan kita ketika sedang dirundung permasalahan. Baca saja di sini.


Karena itulah saya jadi lebih legawa (kata orang jawa) dalam menghadapi situasi ini. Toh saya hanya perlu bersabar sampai nanti saya melahirkan. hhmmm....La takhof wala tahzan innallaha ma'ana.

Jumat, 14 Agustus 2015

PENGAKUAN #PART11

Nak,  kelak kau akan tau.  Bahwa ketika bunda mengandungmu bunda telah mengajarimu satu hal yang sangat berharga.

Perjuangan.

Ketika kamu benar,  kamu harus bisa memperjuangkan kebenaranmu.  Meskipun untuk mengatakannya tidaklah mudah.  Ada harga yang harus kita korbankan untuk memperjuangkannya.

Hidup itu memang pilihan anakku.  Dan ketika kamu sudah memilih,  perjuangkanlah pilihanmu itu.  Tidak sedikit memang kesulitan yang akan kau hadapi dalam memperjuangkan pilihanmu.  Bahkan bisa saja pilihanmu sendirilah yang perlahan ingin melepaskan ikatannya denganmu.


Jangan menyerah.  Tetaplah berjuang.  Buktikan pada dunia bahwa kau memang pantas untuk pilihanmu.