Minggu, 09 Oktober 2011

---tentang seseorang---

kan kuceritakan tentang seseorang. seseorang yang dekat dalam hidupku. ia seorang perempuan. perempuan yang punya semangat tinggi untuk membahagiakan orang di sekitarnya. perempuan yang tidak mudah menyerah. perempuan yang supel, rajin, dan suka menolong sesama.

ia berasal dari keluarga yang sangat bahagia. baginya keluarga adalah segalanya. ada umi yang selalu siap di saat ia ingin curhat, ada abi yang senantiasa mendampingi di saat ia membutuhkan. umi, abi, dan adik-adiknya. ia tinggal di sebuah kota kecil di jawa tengah. dulu, ia merupakan orang yang sedikit pendiam. hanya orang-orang tertentu yang benar-benar mengenal sifatnya. sifat yang sedikit sensitif_perasa_peka, dan pemikir. mungkin itu salah satu kelemahannya, ia suka memikirkan apa yang dikatakan orang terhadapnya. sampai-sampai ia tak punya cukup waktu untuk bercerita selain pada selembar kertas. ia rajin bicara dengan selembar kertas. jangan berpikir ia gila, tidak. ia tidak gila. ia hanya sedikit ingin berbagi, tapi tidak ingin dikhianati. jadilah buku adalah sahabat terbaik yang pernah ada dalam hidupnya.

kehidupannya di rumah berlangsung seperti orang-orang kebanyakan. waktu sekolah, yang ia lakukan adalah belajar, kadang bermain bersama teman. tapi ia bukan pribadi yang senang keluar dan bermain bersama teman. hanya sesekali saja, ketika itu memang diperlukan. baginya bermain itu kurang begitu menguntungkan. jadi, ia banyak menghabiskan waktunya untuk belajar.


bicara tentang prestasi. sewaktu SD cawu 1 ia mendapat rangking 14. fantastis bukan? setelah itu, rangkingnya hanya berpindah dari rangking 3 ke 2 atau 2 ke 3. sampai dia kelas 6. entahlah, juara 1 sangat sulit didapatkannya. memang manusia tidak ada yang sempurna bukan? yang penting dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan yang terbaik.

waktu SMP, ia lalui dengan banyak pengorbanan dan perjuangan. ia harus latihan untuk pulang pergi naik bis. berangkat sekolah jam 6 kurang, adalah waktu yang sangat biasa baginya. SMP baginya kurang begitu berkesan. ia sosok yang pendiam, mungkin karena masa itu baginya merupakan masa pencarian jati diri yang sebenarnya.

ngomong-ngomong masalah keuangan, dari SD ia sudah terbiasa untuk mengelola uangnya sendiri. karena dari SD ia sudah diberikan uang bulanan, jadi bukan uang harian. dan yang perlu kalian tau, ia tidak pernah meminta lebih kepada orang tuanya. ia dikenal sebagai pribadi yang nerima, qanaah atas segala sesuatu yang sudah orang lain berikan kepadanya. tidak banyak protes. mungkin juga karena ia adalah anak yang pertama.


dari SMP ia mulai menulis. menulis dimana saja, di buku catatan, di buku harian, di manapun itu.

ia juga pernah minder, merasa tidak percaya diri atas dirinya sendiri. mungkin karena begitu banyak kelemahan yang ia punya. terlebih tentang fisiknya. entah kenapa ia sering minder, merasa kurang pede, dan bahkan cenderung untuk memendam masalahnya sendiri.

waktu SMA ia mulai bangkit, memperbaiki kesalahan waktu SMP. sifatnya yang buruk banyak yang berubah. ia mulai supel. punya banyak teman, dan yaaah...ada cerita yang indah waktu SMA dengan temannya. biasa, cerita tentang persahabatan. ia mempunyai sahabat SMA yang banyak.

baginya waktu adalah selintasan kesempatan yang dapat dilakukan. baginya kunci sukses adalah pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. karena itulah ia lebih banyak bermuhasabah selepas ia lulus SMA.
waktu kuliah adalah waktu yang sangat berbeda. ia dituntut untuk lebih banyak mandiri. ia dilepas oleh orang tuanya. nun jauh disana, jauh dari kampung halaman. hanya satu inginnya, ia ingin membuktikan ke orang tuanya bawa ia mampu untuk sukses. ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidup tak bisa bergantung pada orang lain. hidup harus dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri.


ia sering menulis mimpi-mimpinya, pada selembar kertas. mimpi-mimpi yang perlahan, entah ia sadari atau tidak, terwujud satu per satu.



dan hari ini, ia kembali menulis mimpi...


tentang ia, tentang seseorang dan tentang dunia.....


091011




_Khalifa Rafa Azzahra_

Mengulang kembali tanggal dan bulan yang sama

Rabu, 05 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Keempat"



Takkan ada yang bisa kita dapatkan jika kita Diam. Diam hanya menjadi penutup keterbukaan. Diam berarti kita lebih suka untuk menunggu, menanti seseorang bicara lalu membuat pernyataan atau pertanyaan dan memutuskan sesuatu. Diam takkan bisa menggerakkan seseorang. Diam bagiku sia-sia, hanya menjadi koma, jeda dari sebuah perjalanan yang panjang.


Jika saja semua orang tau jika diam akan mendekatkan dirinya menuju keterpurukan, takkan ada di dunia ini yang menyukai Diam. memang ada kalanya diam itu membawa ketenangan, menimbulkan esensi sendiri bagi jiwa yang kesepian. Tapi diam akan semakin membuat tekanan kelam enggan beranjak.


Bergeraklah, Berbuatlah yang terbaik untuk orang-orang tercinta. Karena perubahan itu selalu diawali dengan perbuatan, dan sesungguhnya diam tidak akan bisa mengubah sesuatu. Melainkan membuat pertanyaan. membuat keraguan.

Ketika kita bergerak, orang-orang akan tau kualitas kita. ketika kita diam, orang-orang akan menganggap kita tak ada bedanya dengan benda mati. takkan bergerak jika tak disentuh, jika tak diberi dorongan.


Masihkah kalian suka dengan diam, jika ternyata bicara yang baik itu lebih mengasikkan?


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Pengasih, kasihilah orang-orang terkasih. yang dengan kesabarannya ia menggerakkanku untuk mendekat padaMu
Yang dengan perhatiannya selalu dapat menyadarkanku akan pentingnya Engkau
Yang dengan kasih sayangnya selalu meyakinkanku bahwa Engkau ada diantara kami, mengasihi dan menjaga kami. 
Sayangilah dia ya Rabb, sayangilah mereka, orang-orang yang kucinta. karena cinta merekalah yang menggerakkanku untuk mendekat padaMu.






.

Selasa, 04 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Ketiga"

Sebagaimana keinginan bisa dipuaskan oleh mendapatkan. Seperti itu juga mungkin tindakan dan pernyataan yang dilengkapi dengan penghargaan. Lebih jelasnya seperti ini. Penghargaan akan timbul jika kita dapat menunjukkan kapabilitas diri kita. Ketika kita menghargai diri sendiri dengan benar, kita akan mampu untuk menghargai orang lain, menghargai sebuah hubungan hablumminannas. 


Penghargaan juga akan diiringi dengan kekecewaan jika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Aksi-reaksi seperti sebuah siklus bukan? ada kalanya di bawah, ada juga kalanya di atas. ada kalanya kita dihargai, ada kalanya kita dicaci. Manusia yang bijaksana adalah manusia yang bisa menempatkan dirinya, menghargai dirinya bagaimana menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya. sesuai dengan takarannya. karena apapun yang berlebihan itu tidak baik. apapun yang tidak sesuai dan tidak dianjurkan tapi kita laksanakan adalah kedzaliman.




Dimanapun kita berada, mari menghargai diri kita sendiri. dengan selalu bersikap bijaksana pada apapun di sekitar kita. Meski tak ada manusia yang melihat, Ingatlah Allah senantiasa menatap kita. Mengingatnya di setiap aktivitas kita adalah salah satu cara penguatan diri dan penghindaran diri dari segala dosa. Jika kita mampu menghargai diri sendiri, Allah akan mempunyai cara untuk membalas hal itu. Meski dengan penghargaan ataupun dengan ujian yang lain. Masih tidak mau menghargai? coba saja beli cermin, pandang diri anda, seberapa pantas anda dihargai orang lain jika anda tidak mau menghargai yang lain?


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Menjaga, Engkau tau siapa yang pantas mendapatkan segala penghargaan dari diri ini
Engkau yang tau siapa dia yang sebegitu menjaga hatinya, jagalah ia ya Allah, seperti ia menjaga hatinya untukMu, untuk insan yang membuatnya lebih dekat denganMu
Engkaulah yang pantas untuk menghargai ya Rabbi, tatkala penghargaan dari manusia hanya semu dan pengharapan yang basi

Aksi-Reaksi "Bagian Kedua"

Adakah yang lebih menyedihkan dari sebuah kehilangan? jika memang ada coba engkau berikan jawabannya kepadaku. Adakah yang lebih menyakitkan dari sebuah pengkhianatan? jika memang ada coba engkau tuliskan jawabannya kepadaku. 

Lalu, apakah sebab dari akibat-akibat itu? adakah yang menimbulkan kondisi itu terjadi? mungkin sikap kita? atau mungkin pemikiran kita? kurang dewasanya kita menilai sesuatu hal. entah, kadang ada sesuatu hal yang diberikan tidak seperti yang kita inginkan. tapi itulah yang harus kita pelajari. Bukankah setiap pertemuan itu akan ada perpisahan? Tak peduli bagaimana caraNya mengatur perpisahan itu. entah dari sebuah kehilangan, pengkhianatan, ketidakpedulian, sampai kepada kebohongan. Yang jelas, muara yang menyebabkan kita sampai kepadanya itulah sarana pembelajaran kita.

Kadang ada ribuan pertanyaan dari dalam hatiku sendiri. meski dalam diam pertanyaan itu mengalami 'ada' lalu 'tiada'. kadang terjawab, kadang tertunda. bukankah terkadang Dia tau kapan jawaban itu mampu kita baca? Aksi-Reaksi itu adalah sebagian dari hal di sekitar kita. Entah kita mampu merasakan, memahami, lalu meyakininya atau tidak. Yang jelas, kedewasaan selalu dibutuhkan untuk menemui setiap jawaban. Sepahit apapun itu. 



_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Mendengar, sesungguhnya Engkau mendengar apa-apa yang belum sempat aku ucapkan
Sesungguhnya Engkau mendengar apa-apa yang tersimpan, tak sempat terlontar
Berikan kekuatan hati untuk menerima apapun dariMu, Ya Rabb...sepahit apapun itu
Yakinkan hatiku bahwa tak ada kekuatan yang mampu menguatkan aku selain Engkau
Sesungguhnya Engkau mengetahui, bahwa setiap kehilangan akan mendekatkan kita menuju 'mendapatkan'
Berkahi 'kami' ya Allah...dalam menuju jalanMu yang Engkau ridhai

Aksi-Reaksi "Bagian Pertama"

Semua pertanyaan pasti ada jawab. Sama halnya seperti sebab yang diikuti dengan akibat. Itulah hidup. Seperti pula sehat dan sakit yang berpasangan. Takkan mungkin ada sehat tanpa sakit sebelumnya. Takkan mungkin juga ada suka tanpa duka yang melengkapinya. 

Sebab ini berasal dari akibat. Entah apa memang terlalu percaya akan adanya hukum aksi-reaksi sehingga kadang kita tak perlu khawatir akan adanya sesuatu hal dalam hidup. Percaya saja, semuanya sudah ada yang mengatur. Percaya saja kita hanya mengikuti alur. Tinggal memperbaiki diri sebagaimana Allah telah berjanji "Orang yang baik untuk orang yang baik, begitupula orang yang buruk untuk orang yang buruk."

Ketika ada kondisi dimana orang yang baik mendapatkan orang yang buruk, percaya saja, Allahlah yang maha penentu skenario. Bisa saja kehadiran kita akan membawa kebaikan padanya. Tak perlulah kita mengkhawatirkan karena memang segala ketentuanNya telah digariskan.


Sebagaimana aksi-reaksi ini diciptakan. Bukankah akan terasa lebih memuaskan jika kita mengalami dan lebih merasakan?


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Tahu, Ampuni jikalau diri ini tak bisa menjaga apa yang Engkau amanahkan kepadaku
Ampuni jikalau diri ini kurang dapat menjaga segala indera yang Engkau titipkan kepadaku
Kadang tindakan dzalim selalu menjadi sebab dari timbulnya beberapa akibat
Mungkin karena aku terlampau angkuh, tidak memperhatikan apa yang seharusnya menjadi perhatian
Bagaimana aku dapat memperhatikan orang lain, sedang memperhatikan diri saja hanya ada kata 'mungkin'
Ampuni aku ya Allah...atas segala kedzaliman yang aku perbuat
Pantaslah jika 'Sakit itu adalah sarana pengguguran dosa yang melekat'
Faghfirlii ya Rabbi.....

Jumat, 30 September 2011

Cahaya Hati "Bagian Kesembilan"

"Ya Muqollibul quluub, Tsabbit  qalbiy 'alaa dinik wa 'alaa thoo'atik"



_Khalifa Rafa Azzahra_

Cahaya Hati "Bagian Kedelapan"

"Ikhtiar 
                               Tawakkal 
                                                                           Berdoa"



_Khalifa Rafa Azzahra_