Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2011

Kepada yang menamai hari

Kepada pagi yang berjingkat dari mimpi
ijinkan aku melihat mentari
sekali lagi
menatap raut muka mentari kusut, ditiduri kalut
malam yang beranjak masih menyisakan jejak
sepenggal episode enggan tinggal
aku masih merangkai harapan, mungkin kelak
akan ada yang tinggal
hingga kekal mengecup landai kesetiaan


Kepada siang yang memusnahkan bayangan
ijinkan aku mengenyahkan kenangan
sebagaimana senja yang mengikis habis bayangan
ajari aku menerka, apa lagi yang kan tiada
selepas mentari menuntaskan titahnya
ijinkan peluh ini luruh, menuai bening keikhlasan pada buluhbuluh penghambaan


Kepada malam yang mengendap dalam gelap
ijinkan aku mengeja patah demi patah ratap hari
sebenarbenar kata tak sudi ku mengiba, mengadukan kata lelah lewat putus asa
tapi entah, ada yang pelan merambat
lalu dingin melumat semangat
ada yang diam lagi lirih menyisakan perih
aku tersedu, ruparupanya demam enggan berlalu
aku menggumam, malammalamku dipenuhi igauan kelam
sakit


_Khalifa Rafa Azzahra_
The spirit of java, 18102011, 21.57











Aksi-Reaksi "Bagian Kesembilan"


Sebagaimana mendung yang menjadi pertanda atas gugurnya hujan, seperti itulah kiranya tanda-tanda kehidupan mulai dipetakan. pada satu alamat. pada beribu nama yang mulai mencari tempat. sekedar istirah maupun ziarah, begitulah langkah demi langkah kaki membuat jejak, menuliskan hikayat atas perjalanan hidup pada sebuah sajadah panjang. tempat dahi beradu sejenak, menuliskan segala amal dari sekian banyak doa yang kadang lupa kita hafal.


Cukup dengan satu tanda saja, tanpa kata, makna akan tersampaikan. seperti sebuah perjalanan yang sering kita lewati. pada aspal-aspal yang garang, dimana tempat asap dan peluh bercinta. mengucap sekian ratus lelah yang telah kita kumpulkan pada sebidang tanah. ah, itulah tanda. sebuah sebab terbitnya perlakuan kita dan menjadi akibat sesudahnya. Singkatnya, hanya perlu warna-warna untuk mengungkapkan sesuatu. seperti langit yang selalu mengajari kita bagaimana meluapkan airmata. cukup mendung yang bicara, lalu sekejap mata, langit yang mengandung pun akhirnya mengeluarkan tangisnya. tak perlulah airmata itu dibalas dengan keluhan apalagi sebuah kekesalan. ia adalah rizki tersendiri bagi sebagian insan. 

kembali kepada warna. yang sering kita lihat adalah warna dalam sebuah perjalanan. tak perlu berkoar apalagi sampai mengeluarkan emosi jika hanya menginginkan sebuah jeda dalam perjalanan ini. cukup warna merah sebagai pertandanya. dan tidak perlu gertakan jika menginginkan seseorang berjalan lagi, menuruti semua skenario dalam alur kehidupan. cukup warna hijau untuk memerintahkannya. mudah bukan? intinya sesuatu yang mudah seharusnya dibuat mudah. jika ada yang lebih mudah dan sederhana dalam mengungkapkan sesuatu mengapa harus dipersusah? jika menginginkan reaksi yang sederhana, lakukanlah aksi yang sederhana pula. tak perlu kiranya kita harus berlebihan dalam menyampaikan sesuatu hal, jika dengan kesederhanaan saja makna dan keinginan kita sudah tersalurkan. 


ada saat-saat dimana diam, dan memberi isyarat itu lebih meyakinkan. daripada harus berteriak lantang, menyuruh, mempertegas seluruh peringatan dalam bingkai kekerasan. segala sesuatu bisa selesai dengan kelembutan. yakin saja, batu yang keras pun bisa kikis karena setitik air yang terus menerus dirintikkan. bukankah gerimis itu akan terlihat lebih manis daripada badai dan petir yang menggetarkan?


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Lembut, lembutkan hati kami. Ajari kami untuk senantiasa bertutur kata lembut. Tanpa menyakiti orang lain. Berikan kami kesempatan untuk mempergunakan lisan ini dengan sebaik-baiknya. Ya Rabb, Engkaulah yang Maha Menunjukkan segala Pertanda, ijinkan kami untuk lebih peka dalam 'membaca' setiap isyaratMu, dalam derit mimpi yang kadang begitu sulit kami untuk menerka.



Senin, 17 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Kedelapan"

Jika alur hidup bisa mengalir tanpa redup, dapatkah tanpa kutebak sinarmu memasuki hilir dan relungku ? mencapai cinta pada muaraNya di barisan para pencinta yang bersujud walau kadang abjad ini tak mampu berwujud


Tidak perlu ada jawab jika sekiranya sudah jelas apa yang tidak terungkap. Tidak perlu juga kiranya ada pertanyaan jika yang diperlukan sudah menjadi sebuah pernyataan. bukankah dalam sebuah penghambaan tidak perlu kita mempertanyakan? siapa yang berhak kita cinta dan siapa yang berhak mendapatkan cinta sejati kita. Selayaknya tidak perlu pengingkaran akan adanya sebuah wujud yang kadang kita sendiri tak mampu untuk merasakannya. Kadang ketiadaan itu mampu menghilangkan perasaan keraguan, bahwasanya keberadaanNya di setiap hari-hari kita mampu membuat kita mengalir, senantiasa mengikuti hilir kemana arah alur suatu kehidupan. 

Itulah aksi yang ingin dilukiskanNya, melalui sebuah kecintaan yang kadang kita sendiri tak mampu menerjemahkanNya. Tidak semua hal dalam hidup ini bisa dilukiskan, bukan? begitu pula dengan perasaan, mahabbah ilallah yang diikuti dengan kefahiman tak akan menimbulkan keraguan apalagi sebuah kebohongan. Kebohongan bahwa selain Illah yang melalui lafal kita dalam rukuk, sujud, dan setiap kali kita melangkah, ternyata ada sebuah nama yang kadang kita sendiri lebih rajin mengingatnya. Lebih hafal mengejanya. Bukankah Dia, yang mempunyai segalanya dapat membolak-balikkan sebuah rencana. Setidaknya kita telah berusaha, itulah ikhtiar yang merupakan reaksi dari sebuah skenario keMahaanNya.

Kebaikan akan berujung dengan kebaikan pula. Yakinlah akan hal itu. Walaupun pada tengah perjalanannya ia harus bertemu dengan kepahitan. Hidup takkan jadi sempurna jika kita tidak merasakan ketidaksempurnaan yang menunjukkan jalan bagaimana menuju kesempurnaan. Kita memang tidak sempurna, tapi melalui mahabbah dan taqarrub illallah, kesempurnaan itu akan menjelma dalam proses kita menuju penghambaan sejati. Meraih cinta Allah yang hakiki. 

_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai Dzat yang Maha Kasih, Ajari kami sekali lagi bagaimana mengeja sembilan puluh sembilan asmaMu. agar tiada lagi alpa yang menyapa. Agar Engkau selalu menjelma dalam denyut nadi, berdetak mengairi kebekuan, lantas memberikan muthmainnah fii kalbun. Sinari hati kami, Ya Rabb, dengan sinar yang tak ada lagi redup sesudahnya. Ajari kami untuk tetap teguh di jalanMu. istiqamah menujuMu.




Kamis, 13 Oktober 2011

Pagi

Sebab pagi

selalu mengajariku menjemput mimpi

                                                                         Sebab pagi

                                                                         membuatku mengingat lagi

                                                                         bahwa mentari masih menyinari




_Khalifa Rafa Azzahra_
Sehat sehat sehat sehat sehat
Stay Healthy, rafa....
Surakarta, 07.26 14102011

Rabu, 12 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Keenam"

Lihat aku saja. Hanya aku. Hanya aku yang kau lihat
Karena disini aku hanya melihatmu

Allah selalu menciptakan sesuatu karena sebab. mengapa Hawa diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri adam. selain sebab, pasti akan ada akibat setelahnya. itulah mengapa hawa, sekaligus sebagai pencerminan kaum wanita selalu terlihat lemah. Ia seperti tulang rusuk sebelah kiri, dekat di hati. jangan pernah berbuat kasar kepada wanita. karena walau bagaimanapun, ia adalah kaum yang lembut hatinya, halus perasaannya. 

Kebencian tidak bisa dibalas dengan kebencian. banyak hal di dunia ini yang tidak bisa selesai dengan makian. kadang, ketika kita diam, berusaha untuk sabar, justru itulah yang akan mencairkan kebekuan. begitu juga Allah membuat manusia berpasang-pasangan. seperti kutub dalam magnet. antara utara dan selatan akan terjadi tarik menarik. berbeda jika kutub utara dengan utara didekatkan. mungkin analogi itu bisa dianalogikan pada manusia. manusia yang tercipta dan berjodoh dengan pasangannya. Ada yang bilang, jodoh itu saling melengkapi. ada aksi dan ada reaksi. ada yang suka mendengar, ada yang suka berbicara. tidak akan dapat menyatu jika dua hati sama-sama ingin diperhatikan, tidak akan menyatu jika dua hati sama-sama keras kepala. dan tidak akan bisa menyatu jika dua hati tidak pernah saling percaya. 

Ada kata

Ada cerita

Tentang kita

Tentang rasa

Tentang untaian kata di balik cahaya

Ada sepasang mata

mata indahmu, yang melihat ribuan aksaraku


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Menguatkan, kuatkanlah ikatan kami. sebagaimana engkau menguatkan orang-orang yang mencintai karenaMu. dan ikatkanlah kami, dalam ikatan suci menuju sunnah Nabi
















Selasa, 11 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Kelima"

di dadamu, bermuara segala debar. di bibirmu, tak henti getir bergetar
semua yang hadir akan berpulang, semua yang pergi akan datang
barangkali, tiaptiap syair adalah penjelmaan suara yang tak pernah menjelma menjadi ucap kata


Aku seringkali menulis tentang segala sesuatu yang hadir dan berpulang. bahwasanya yang hadir pasti kan berpulang. sebelum semuanya mengecup takdzim seluruh dzikir. kiranya ada yang terbit yang acap kali sering disapa dengan getir. getir atau lebih tepatnya kita sebut dengan kekhawatiran adalah sebuah simfoni rasa yang akan hadir jika kita mempunyai perhatian yang lebih kepada seseorang yang kita khawatirkan.



itulah sebab asal mulanya getir mengucap. karena sebuah rasa peduli yang seharusnya tanggap melihat situasi dan kondisi yang mengkhawatirkan dari yang "terkasih". selebihnya hanya ada doa yang mengalir. tak perlu khawatir akan segala sesuatu, karena awal mula sebab akibat dan aksi reaksi ini sebenarnya sudah terungkap dalam sebuah hikayat yang menjadi sabda bagi seluruh hambaNya.kita,sebagai hamba, hanya patut untuk senantiasa belajar. tentang adalahnya mula,dan tentang adanya akhir...

_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai Rabbku,yang memahami setiap hati,yang mengetahui siapa yang peduli.
Lindungi ia, dan berikanlah kesehatan kepadanya..orang-orang yang tercinta. karena semangatnya adalah semangatku.karena senyumnya adalah senyumku

Rabu, 05 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Keempat"



Takkan ada yang bisa kita dapatkan jika kita Diam. Diam hanya menjadi penutup keterbukaan. Diam berarti kita lebih suka untuk menunggu, menanti seseorang bicara lalu membuat pernyataan atau pertanyaan dan memutuskan sesuatu. Diam takkan bisa menggerakkan seseorang. Diam bagiku sia-sia, hanya menjadi koma, jeda dari sebuah perjalanan yang panjang.


Jika saja semua orang tau jika diam akan mendekatkan dirinya menuju keterpurukan, takkan ada di dunia ini yang menyukai Diam. memang ada kalanya diam itu membawa ketenangan, menimbulkan esensi sendiri bagi jiwa yang kesepian. Tapi diam akan semakin membuat tekanan kelam enggan beranjak.


Bergeraklah, Berbuatlah yang terbaik untuk orang-orang tercinta. Karena perubahan itu selalu diawali dengan perbuatan, dan sesungguhnya diam tidak akan bisa mengubah sesuatu. Melainkan membuat pertanyaan. membuat keraguan.

Ketika kita bergerak, orang-orang akan tau kualitas kita. ketika kita diam, orang-orang akan menganggap kita tak ada bedanya dengan benda mati. takkan bergerak jika tak disentuh, jika tak diberi dorongan.


Masihkah kalian suka dengan diam, jika ternyata bicara yang baik itu lebih mengasikkan?


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Pengasih, kasihilah orang-orang terkasih. yang dengan kesabarannya ia menggerakkanku untuk mendekat padaMu
Yang dengan perhatiannya selalu dapat menyadarkanku akan pentingnya Engkau
Yang dengan kasih sayangnya selalu meyakinkanku bahwa Engkau ada diantara kami, mengasihi dan menjaga kami. 
Sayangilah dia ya Rabb, sayangilah mereka, orang-orang yang kucinta. karena cinta merekalah yang menggerakkanku untuk mendekat padaMu.






.

Selasa, 04 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Ketiga"

Sebagaimana keinginan bisa dipuaskan oleh mendapatkan. Seperti itu juga mungkin tindakan dan pernyataan yang dilengkapi dengan penghargaan. Lebih jelasnya seperti ini. Penghargaan akan timbul jika kita dapat menunjukkan kapabilitas diri kita. Ketika kita menghargai diri sendiri dengan benar, kita akan mampu untuk menghargai orang lain, menghargai sebuah hubungan hablumminannas. 


Penghargaan juga akan diiringi dengan kekecewaan jika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Aksi-reaksi seperti sebuah siklus bukan? ada kalanya di bawah, ada juga kalanya di atas. ada kalanya kita dihargai, ada kalanya kita dicaci. Manusia yang bijaksana adalah manusia yang bisa menempatkan dirinya, menghargai dirinya bagaimana menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya. sesuai dengan takarannya. karena apapun yang berlebihan itu tidak baik. apapun yang tidak sesuai dan tidak dianjurkan tapi kita laksanakan adalah kedzaliman.




Dimanapun kita berada, mari menghargai diri kita sendiri. dengan selalu bersikap bijaksana pada apapun di sekitar kita. Meski tak ada manusia yang melihat, Ingatlah Allah senantiasa menatap kita. Mengingatnya di setiap aktivitas kita adalah salah satu cara penguatan diri dan penghindaran diri dari segala dosa. Jika kita mampu menghargai diri sendiri, Allah akan mempunyai cara untuk membalas hal itu. Meski dengan penghargaan ataupun dengan ujian yang lain. Masih tidak mau menghargai? coba saja beli cermin, pandang diri anda, seberapa pantas anda dihargai orang lain jika anda tidak mau menghargai yang lain?


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Menjaga, Engkau tau siapa yang pantas mendapatkan segala penghargaan dari diri ini
Engkau yang tau siapa dia yang sebegitu menjaga hatinya, jagalah ia ya Allah, seperti ia menjaga hatinya untukMu, untuk insan yang membuatnya lebih dekat denganMu
Engkaulah yang pantas untuk menghargai ya Rabbi, tatkala penghargaan dari manusia hanya semu dan pengharapan yang basi

Aksi-Reaksi "Bagian Kedua"

Adakah yang lebih menyedihkan dari sebuah kehilangan? jika memang ada coba engkau berikan jawabannya kepadaku. Adakah yang lebih menyakitkan dari sebuah pengkhianatan? jika memang ada coba engkau tuliskan jawabannya kepadaku. 

Lalu, apakah sebab dari akibat-akibat itu? adakah yang menimbulkan kondisi itu terjadi? mungkin sikap kita? atau mungkin pemikiran kita? kurang dewasanya kita menilai sesuatu hal. entah, kadang ada sesuatu hal yang diberikan tidak seperti yang kita inginkan. tapi itulah yang harus kita pelajari. Bukankah setiap pertemuan itu akan ada perpisahan? Tak peduli bagaimana caraNya mengatur perpisahan itu. entah dari sebuah kehilangan, pengkhianatan, ketidakpedulian, sampai kepada kebohongan. Yang jelas, muara yang menyebabkan kita sampai kepadanya itulah sarana pembelajaran kita.

Kadang ada ribuan pertanyaan dari dalam hatiku sendiri. meski dalam diam pertanyaan itu mengalami 'ada' lalu 'tiada'. kadang terjawab, kadang tertunda. bukankah terkadang Dia tau kapan jawaban itu mampu kita baca? Aksi-Reaksi itu adalah sebagian dari hal di sekitar kita. Entah kita mampu merasakan, memahami, lalu meyakininya atau tidak. Yang jelas, kedewasaan selalu dibutuhkan untuk menemui setiap jawaban. Sepahit apapun itu. 



_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Mendengar, sesungguhnya Engkau mendengar apa-apa yang belum sempat aku ucapkan
Sesungguhnya Engkau mendengar apa-apa yang tersimpan, tak sempat terlontar
Berikan kekuatan hati untuk menerima apapun dariMu, Ya Rabb...sepahit apapun itu
Yakinkan hatiku bahwa tak ada kekuatan yang mampu menguatkan aku selain Engkau
Sesungguhnya Engkau mengetahui, bahwa setiap kehilangan akan mendekatkan kita menuju 'mendapatkan'
Berkahi 'kami' ya Allah...dalam menuju jalanMu yang Engkau ridhai

Aksi-Reaksi "Bagian Pertama"

Semua pertanyaan pasti ada jawab. Sama halnya seperti sebab yang diikuti dengan akibat. Itulah hidup. Seperti pula sehat dan sakit yang berpasangan. Takkan mungkin ada sehat tanpa sakit sebelumnya. Takkan mungkin juga ada suka tanpa duka yang melengkapinya. 

Sebab ini berasal dari akibat. Entah apa memang terlalu percaya akan adanya hukum aksi-reaksi sehingga kadang kita tak perlu khawatir akan adanya sesuatu hal dalam hidup. Percaya saja, semuanya sudah ada yang mengatur. Percaya saja kita hanya mengikuti alur. Tinggal memperbaiki diri sebagaimana Allah telah berjanji "Orang yang baik untuk orang yang baik, begitupula orang yang buruk untuk orang yang buruk."

Ketika ada kondisi dimana orang yang baik mendapatkan orang yang buruk, percaya saja, Allahlah yang maha penentu skenario. Bisa saja kehadiran kita akan membawa kebaikan padanya. Tak perlulah kita mengkhawatirkan karena memang segala ketentuanNya telah digariskan.


Sebagaimana aksi-reaksi ini diciptakan. Bukankah akan terasa lebih memuaskan jika kita mengalami dan lebih merasakan?


_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai yang Maha Tahu, Ampuni jikalau diri ini tak bisa menjaga apa yang Engkau amanahkan kepadaku
Ampuni jikalau diri ini kurang dapat menjaga segala indera yang Engkau titipkan kepadaku
Kadang tindakan dzalim selalu menjadi sebab dari timbulnya beberapa akibat
Mungkin karena aku terlampau angkuh, tidak memperhatikan apa yang seharusnya menjadi perhatian
Bagaimana aku dapat memperhatikan orang lain, sedang memperhatikan diri saja hanya ada kata 'mungkin'
Ampuni aku ya Allah...atas segala kedzaliman yang aku perbuat
Pantaslah jika 'Sakit itu adalah sarana pengguguran dosa yang melekat'
Faghfirlii ya Rabbi.....

Jumat, 30 September 2011

Cahaya Hati "Bagian Kesembilan"

"Ya Muqollibul quluub, Tsabbit  qalbiy 'alaa dinik wa 'alaa thoo'atik"



_Khalifa Rafa Azzahra_

Cahaya Hati "Bagian Kedelapan"

"Ikhtiar 
                               Tawakkal 
                                                                           Berdoa"



_Khalifa Rafa Azzahra_