Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

satu..dua..10


katamu,kau lelah. aku mengalah. kubiarkan kau menyetubuhi tanah. sedang aku tetap melangit. di antara mendung yang menggantung. kau, satu-satunya yang mengendapkan airmata di langitku.

hingga malam ketujuh, aku tetap tak berhenti menanti. kulihat dirimu,begitu jauh,hampir jatuh. sedang aku terlampau jenuh. tak henti membuang sauh.

katamu, aku terlalu sering membuang rantingranting kata. apa kau tak suka?

entah sampai kapan aku berhenti menerka. berhenti menjadi yang pertama. menanti dan menyapa.

kelak, takkan kupenuhi engkau dengan airmata. karena cinta adalah seberapa mampu kau menghapus airmata.

jadi,mulai detik ini,jika langitku mendung,dan awanku mulai mengandung. akan aku katakan yang sebenarnya..

berdamailah denganku. meski jarak teramat dekat mengganggu. kugantungkan buliran rindu pada setiap hujan di dadamu.

aku mencintaimu, bumi. cinta yang tak pernah sanggup tertera dalam sepenggal hikayatku. tetaplah disana, menerbangkan doadoa bernama cinta. takkan kupatahkan segala asa dan percaya bahwa kau adalah tempatku berpulang. kau adalah setiap cuaca yang terlukis di langitku.


-Khalifa Rafa Azzahra-
surakarta 140312 14.50 


Sajak Cintaku kepada Bumi

1. Di kepalaku, ribuan puisi tertera. menuliskan bait-bait memori tanpa koma.

Di mataku, sajak sunyi bersemi. melukiskan jejak-jejak cinta dalam hati.

Di dadaku, setiap luka bermuara. setiap hening berdenting menyapa mimpi tanpa jeda.

Di sini aku terdiam. hanya menanti sejak tadi. sedangkan engkau tak pernah merasa aku menunggumu. menanti sesuatu yang tak merasa dinanti lebih mengecewakan. karena itu, aku tak mau lagi menanti. cukup melangkah. sampai lelah. 

2. Mungkin terlalu pusing, segala suara berpaling-dari hening menjadi denting

aku ingin belajar darimu, mendengar yang tak terdengar. merasa yang tak terasa. melihat yang tak terlihat

mencoba memaknai setitik debar, setiap eja, dan sebuah isyarat.

dengan sederhana, sesederhana kau dan aku yang kini menjadi kita.


3. Apa yang dikhawatirkan dari rindu? sedang takkan ada satu orangpun yang mengambilnya dariku. pernah, kubiarkan ia sendiri. terduduk, sambil menanti satu kata dari sebuah nama yang ada di hati. lalu, engkaupun datang, membuat ramai sepiku dengan sapaan,  "Selamat Pagi, Cinta." Rindu itu tetap ada, meski ia lupa bagaimana caranya berbicara.



4. Puisi itu kamu
dan kamu adalah rindu.

rindu itu cinta
dan cinta adalah perhatian tanpa jeda

jatuh cinta kepadamu
membuat seluruh puisi menjadi katakata - menjelma harapan - dalam doadoa yang tak berkesudahan

dari pagi ke siang
dari siang ke senja
dari malam yang tak pernah berhenti menebar bayang

"kamu ada di setiap doadoaku"

5. * Hujan boleh saja berhenti di depan rumahmu, tapi adanya dia akan membuat engkau lega.
karena tak lama lagi pelangi akan mengetuk pintu lalu bertamu padamu,

dulu, dengan sepikah kau menikmati rinai yang menetes dari ujung dedaunan?
kini, aku rasa tak lagi. sebab di sampingmu ada yang telah menyeduh pucuk-pucuk harum, lalu menghidangkannya hangathangat di hatimu.

kelak, seperti juga hari ini, dia akan selalu siap menyelimuti gigilnya jiwamu, atau bahkan mengambil gegugur daun dan menuliskan pesan bernama cinta. berkali-kali. tak henti-henti. meski mungkin ada yang tak sampai padamu.

sebab, ia telah berulang merapal doa padaNya
"Duhai Robb, izinkan aku menjaga pasangan jiwaku. s e l a l u."*
* from my friend rifi

6. Sejauh aku melangkah dan berlari. tapakku akan selalu membersamaimu. dalam setiap denyut nadi, setiap debar, setiap desah.

Aku di sini, di hatimu.


7. seperti gelombang, yang selalu menghempas, berulang kali terbuang dan kau selalu memberi nafas
kau, adalah pantai rinduku. yang selalu akan kutemui. saat ombakku bertandang di dada bidangmu. sunyi.

8. kau adalah setiap cuaca di langitku. memberi arti rindu pada setiap biruku.
9. mungkin sudah jelas. atau aku tidak bisa mempertegas sekali lagi. raut wajah yang selama ini mengendap dalam memori.

tapi, wajahmu selalu mengekal. menjadi jantung di pikiranku yang dangkal. mengingatmu. selalu.

entah, apa karena aku yang teramat jenuh menggambar ekspresi dan arti dari setiap tawa dan tangismu. atau karena aku memang sudah sangat hafal. keningmu yang selalu tak henti berkerut itu, seakan menghisapku lebih lama dalam pusaran rindu.

di matamu, aku ingin menjadi pelangi yang hilang sesekali. namun selalu kau nanti.

 10. Kurasa, jarak memang semakin mempertegas segala rasa yang terserak.
tidak seperti dulu, saat aku hanya dapat mendekap 'mungkin'. dan asa selalu saja angin. melayang dan terbang di antara ingin dan musim. hingga malam selalu saja ganjil. memberikan rindu yang tak henti menjemput kalbu.

sebab mungkin aku ada, atau mungkin hanya tiada. sepotong diam yang tak henti mencinta hingga penghujung senja.


-Khalifa Rafa Azzahra-
nyanyian jiwa untuk bumi-ku..

Sabtu, 07 Januari 2012

Cahaya Cinta #episodesatu



























"Cinta akan mengajarkanmu bagaimana menerima kekurangan, bagaimana memahami, bagaimana memaafkan."

Rabu, 02 November 2011

Kepada yang menamai rasa

Cintakah   namanya, bila jarak selalu saja merampas tubuhmu dari dekapanku? bisakah kau kusebut kekasih, saat sekat ruang di antara kita begitu tebalnya, sehingga jiwamu hanya bisa kusentuh dengan email, SMS, dan telepon?

Rindukah namanya, bila wajah yang kusimpan rapi di rung hati hanya rekaman ingatanku pada hasil tangkapan web cam, camdig, atau scanning, sentuhan sentuhan dingin teknologi?

Kita bahkan tak pernah sempat beradu pandang, apalagi berjabat tangan. tempat kita berdiri selalu saja berjauhan

Atau ketika kini, setelah waktu berlalu, dan akupun tak tahu di belahan bumi yang mana kau persisnya berada, sudahkah kita disebut pengkhianat janji?

Tapi sudahlah, seperti dulu kau kusayangi dengan cara yang berada di luar logika, hingga malam ini pun kau selalu kukenang dengan rasa yang tak bisa kuberi nama

izinkan ingatan tentangmu kubawa kemanapun aku pergi
Biarkan aku mengenangmu dengan sekulum senyum, walau kini aku berbagi tangis dan tawa dengan orang yang berbeda

kau akan tetap menjadi bagian  indah dalam hidupku
menjadi cerita tersendiri yang hanya aku dan DIA saja yang mengetahui


Rindu
Segenggam kenangan atasmu
Menari-nari di sepanjang kalbu
Merangkai sekian puisi
Menjadi abjad 
Menuliskan ribuan riwayat
Antara aku, engkau, kita
Cerita yang sampai saat ini belum tamat


Cinta
Kadang harus kuselami maknamu dalam sunyi
Dalam setiap ziarah detak detik nadi
Bukankah sama, ketika sunyi itu ada, maka denyut kita tiada
Ketika suara itu ada, maka denyut kita seirama
Itulah cinta
Saat dimana aku dan engkau menjadi kita







Benci
Ia adalah sepi
Sunyi
Sendiri
Aku benci




Takut
Adalah saat malam membungkam seluruh pernyataan
Kalut
Menyisakan sebongkah pertanyaan
Hanyut
Meredakan setiap takut dan kalut
Menjadi tiada


Getir 
Menanti sapa mengalir
Kadang dalam dzikir semuanya hadir
Dzikir cinta dan rindu
Pada sebuah nama yang menamai rasa di kalbu



_Khalifa Rafa Azzahra_
Ruang Rindu, SKA, 0630, 02112011

Sabtu, 22 Oktober 2011

Catatan Tinta Sahabat "Ijinkan Aku Mencintaimu dalam Diam"

"Kadang hening adalah satu-satunya cara untuk lebih dekat pada bening"


Untukmu, jiwa yang selalu indah di hatiku. kusampaikan sebuah kata yang paling indah, untuk jiwa yang indah, "Semoga Allah selalu menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan"

Untukmu, jiwa yang selalu menjaga hatiku. 



 Ketika jarak menjadi sebuah koma di antara kita, biarkan kecepatan dan waktu yang menyertainya. seperti rumus fisika. ketika dua hati bisa saling berpaut, mungkin kebahagiaan akan berlipat ganda. seperti kuadrat dalam rumus matematika. atau ketika dua jiwa sama-sama saling faham, kepercayaan akan selalu menyelam, oleh karenanya walau tiada kata yang terucap, hanya satu yang dapat engkau dan aku lihat. DIA. yang selalu menjaga kita. karenaNya tak akan pernah ada keraguan.

Untukmu, sebuah nama yang selalu ada dalam setiap doaku.
tak ada kata yang sanggup kuucap ketika Allah menyematkan sebuah cintaNya padaku untukmu. bagiku, diam adalah tindakan yang pantas kulakukan. karena berbincang dan bercinta denganNyapun kulewati dengan diam. lewat hening malam hingga kudapat menyentuh kebeningan.

karena itu...

Ijinkan aku mencintaimu dalam diam. dalam setiap kalam cinta yang tak pernah bisa kulukiskan. ijinkan aku menjaga hati, dengan diam. karena diam adalah bukti kecintaanku padamu. aku ingin memuliakan engkau, aku tidak akan mengajakmu menuruti nafsu syetan. dan aku tak akan pernah berusaha untuk menjadi cinta yang utama bagimu. karena cintaNya berada jauh di atas semua itu. aku dan engkau sama-sama mencintaiNya, bukan?

Untukmu, jiwa yang tak pernah lelah menyapaku lewat sujud-sujud denganNya
ingatkah engkau tentang kisah Fatimah dan Ali ?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan …
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah
 
karena dalam diam itulah tersimpan kekuatan … kekuatan harapan …
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cinta dalam diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata …
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya ?

Karena diam adalah caraku mencintaimu karenaNya, berharap hal itu lebih memelihara kesucian hatiku dan hatimu setelahnya…


Kutujukan untukmu, yang telah Allah pilihkan untukku
dan jika memang ‘cinta dalam diam’ itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam …
jika engkau memang bukan milikku, Allah akan menghapus ‘cinta dalam diam’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat …seiring berlalunya waktu
biarkan ‘cinta dalam diam’ menjadi memori tersendiri dan sudut hati ini menjadi rahasia antara aku dengan Sang Pemilik hati …




Untukmu, jiwa yang kuharap akan selalu indah karena mencintaiNya

Aku belajar mencintaimu dalam diam
dengan keimanan
Berharap agar dapat menjaga rasa maluku dan memelihara kesucian hatimu
Ini lah caraku Mencintaimu karenaNya, diam dan tak pernah terucap 
hingga di ujung lidah yang lunak bahkan tak pernah terlukiskan 
oleh aktifitasku yang dapat engkau lihat

Berharap menjadi fatimah yang tak pernah sekalipun mengungkapkan
Dan membawamu menjadi Ali Bin Abi Thalib yang tak pernah sekalipun mengecewakan
apalagi menduakan


_Khalifa Rafa Azzahra_

Senin, 17 Oktober 2011

Aksi-Reaksi "Bagian Kedelapan"

Jika alur hidup bisa mengalir tanpa redup, dapatkah tanpa kutebak sinarmu memasuki hilir dan relungku ? mencapai cinta pada muaraNya di barisan para pencinta yang bersujud walau kadang abjad ini tak mampu berwujud


Tidak perlu ada jawab jika sekiranya sudah jelas apa yang tidak terungkap. Tidak perlu juga kiranya ada pertanyaan jika yang diperlukan sudah menjadi sebuah pernyataan. bukankah dalam sebuah penghambaan tidak perlu kita mempertanyakan? siapa yang berhak kita cinta dan siapa yang berhak mendapatkan cinta sejati kita. Selayaknya tidak perlu pengingkaran akan adanya sebuah wujud yang kadang kita sendiri tak mampu untuk merasakannya. Kadang ketiadaan itu mampu menghilangkan perasaan keraguan, bahwasanya keberadaanNya di setiap hari-hari kita mampu membuat kita mengalir, senantiasa mengikuti hilir kemana arah alur suatu kehidupan. 

Itulah aksi yang ingin dilukiskanNya, melalui sebuah kecintaan yang kadang kita sendiri tak mampu menerjemahkanNya. Tidak semua hal dalam hidup ini bisa dilukiskan, bukan? begitu pula dengan perasaan, mahabbah ilallah yang diikuti dengan kefahiman tak akan menimbulkan keraguan apalagi sebuah kebohongan. Kebohongan bahwa selain Illah yang melalui lafal kita dalam rukuk, sujud, dan setiap kali kita melangkah, ternyata ada sebuah nama yang kadang kita sendiri lebih rajin mengingatnya. Lebih hafal mengejanya. Bukankah Dia, yang mempunyai segalanya dapat membolak-balikkan sebuah rencana. Setidaknya kita telah berusaha, itulah ikhtiar yang merupakan reaksi dari sebuah skenario keMahaanNya.

Kebaikan akan berujung dengan kebaikan pula. Yakinlah akan hal itu. Walaupun pada tengah perjalanannya ia harus bertemu dengan kepahitan. Hidup takkan jadi sempurna jika kita tidak merasakan ketidaksempurnaan yang menunjukkan jalan bagaimana menuju kesempurnaan. Kita memang tidak sempurna, tapi melalui mahabbah dan taqarrub illallah, kesempurnaan itu akan menjelma dalam proses kita menuju penghambaan sejati. Meraih cinta Allah yang hakiki. 

_Khalifa Rafa Azzahra_
*Duhai Dzat yang Maha Kasih, Ajari kami sekali lagi bagaimana mengeja sembilan puluh sembilan asmaMu. agar tiada lagi alpa yang menyapa. Agar Engkau selalu menjelma dalam denyut nadi, berdetak mengairi kebekuan, lantas memberikan muthmainnah fii kalbun. Sinari hati kami, Ya Rabb, dengan sinar yang tak ada lagi redup sesudahnya. Ajari kami untuk tetap teguh di jalanMu. istiqamah menujuMu.